KlikJambiViral, Jambi – Aturan tinggal aturan! Instruksi Gubernur (Ingub) Jambi soal rute wajib truk batu bara rupanya cuma dianggap angin lalu oleh para sopir dan mafia tambang. Wibawa pemerintah daerah seolah diinjak-injak, dibuktikan dengan ratusan truk monster yang makin terang-terangan mengangkangi aturan dan nekat menerobos jalur terlarang!
Bukannya patuh lewat rute resmi Batanghari–Bajubang–Penerokan–Tempino, konvoi truk raksasa ini malah seenak jidat melintasi Desa Teratai, Sungai Buluh, Rantau Puri, Kubu Kandang, hingga Jembatan Mas Lopak Aur di Kabupaten Batanghari.
Lebih parahnya lagi, rombongan pengangkut “emas hitam” ini bablas terus menerobos masuk ke wilayah Muaro Jambi, melintasi Pijoan, Sungai Duren, sampai ke Mendalo Darat. Benar-benar kebal hukum!
Warga Muak, Seret Wartawan ke Jalanan Malam Hari!
Kesabaran warga Pemayung sudah di ambang batas. Saking gerahnya melihat aparat yang seolah tutup mata, warga sampai mengundang awak media turun langsung ke lokasi pada Sabtu (9/5/2026) malam untuk jadi saksi kebobrokan ini.
Di jalur dua jembatan antara Pemayung dan Rantau Puri, rombongan truk ini terekam melenggang kangkung tanpa rasa takut sedikit pun.
”Ini sudah keterlaluan! Tiap malam kami dicekik debu dan dibisingkan suara mesin truk. Jalur ini kan dilarang keras, tapi mereka tetap bandel melintas,” amuk WD (45), warga setempat yang sudah kehabisan kata-kata.
Bau Busuk Pungli dan “Bekingan” Preman
Kondisi jalanan yang bebas hambatan bagi truk tambang ini memicu kecurigaan keras dari publik. Bagaimana bisa ratusan truk melanggar aturan gubernur setiap malam tanpa ada satu pun petugas yang mencegat?
Warga mencium aroma busuk pungutan liar (pungli) dan pengamanan terselubung di sepanjang jalur terlarang.
”Seolah ada yang mengakomodir mereka. Aturan ini seperti kertas kosong, tidak sakti bagi gerombolan truk batu bara. Kami sering lihat ada orang-orang tak dikenal yang ‘mengamankan’ truk di titik-titik tertentu,” bongkar sumber warga lainnya di lapangan.
Aparat Jangan Tutup Mata Atau Warga Bakal Sweeping!
Melihat situasi yang makin liar, Kepala Desa Teratai langsung melempar ultimatum keras kepada pihak kepolisian. Ia memperingatkan aparat untuk tidak main-main dengan amarah warga.
”Harapan kami kepada Polres Batanghari segera melakukan penertiban dan sanksi hukum! Jangan sampai nanti masyarakat yang turun tangan melakukan sweeping karena sudah tidak tahan lagi,” ancam Kades Teratai dengan nada tegas.
Pemerintah Provinsi Jambi, Polres Batanghari, dan Dinas Perhubungan kini ditantang nyalinya. Beranikah mereka menindak tegas mafia batu bara, atau akan terus saling lempar tanggung jawab? Kalau instruksi orang nomor satu di Jambi saja bebas disepelekan, legitimasi aparat sudah benar-benar hancur di mata rakyat!












